Skip to content

Keterkaitan Film Kartun dengan Kondisi Anak

Januari 6, 2013

Saat ini kita sebagai orang Indonesia belum bisa berbangga diri karena kita belum bisa menciptakan film kartun sendiri. Pernah ada beberapa kali orang Indonesia yang membuat film kartun namun tidak setenar film kartun dari luar, seperti negara tetangga kita, malaysia dengan kartun Ipin dan Upin, Jepang dengan Avatarnya. Namun, semua film kartun yang merebak di masyarakat belum tentu sepenuhnya bagus bagi perkembangan anak. Karena sering kali kita temukan beberapa adegan kekerasan, adegan percintaan orang dewasa, perilaku kasar terhadap orang lain bahkan sampai pembunuhan. Fakta telah menyebutkan beberapa tahun terakhir ini ada kasus kematian anak yang disebabkan meniru gaya tokoh sang idola. Tentunya hal ini terjadi karena kurang adanya pantauan dari orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Ada lirik puisi children learn what they live yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte, jika anak hidup dengan saling pengertian, ia belajar menjadi sabar. Jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri, jika anak hidup dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar menjadi adil. Ungkapan tersebut bukan hanya sekedar pemanis kata, tetapi memiliki kebenaran faktual yang tidak bisa disangsikan, kondisi lingkungan pada masa anak-anak, secara langsung ataupun tidak, akan membentuk karakter si anak itu sendiri. Sehingga anak membutuhkan komunikasi dua arah dengan orangtuanya.Namun yang didapatnya hanyalah komunikasi dua arah tapi pada benda mati.

            Semua hal tersebut tentu tidak terlepas dari peran anak sebagai seorang pelajar.Selama di sekolah anak diajarkan tentang hal-hal yang mendidik untuk kehidupannya kelak. Menurut Bloom (dalam Sunarto dan Hartono, 2006) mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar anak dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif) dan penguasaan psikomotorik. Pada masa anak-anak telah terjadi perkembangan yang relatif rendah (terbatas). Sehingga segala sesuatu yang ada didekat anak akan mudah masuk ke dalam pikirannya. Pada usia sekolah dasar, anak belum sepenuhnya menguasai nilai-nilai abstrak yang berkaitan dengan benar dan salah atau baik dan buruk. Hal ini dikarenakan perkembangan intelek yang masih terbatas.Anak belum mengetahui manfaat suatu ketentuan atau peraturan dan belum memilik dorongan untuk mengerti peraturan dalam kehidupan.Namun semakin lama mereka semakin mengenal nilai-nilai. Dalam proses mengenal ini anak akan lebih banyak menyerap segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan di dekatnya. Sehingga pada masa inilah menjadi masa keemasan untuk membentuk karakter anak.

 

ade( Ade Pratama Putri   / 2011.06.052  / dkv )

From → Pengaruh Kartun

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: